“Batu Quran Dalam Catatan Sejarah”

Penulis : Pemi Sukendro,SE

Pandeglang, Nusamedia.id Batu Quran yang terletak di kaki Gunung Karang, di Desa Kadubumbang, Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang Dalam catatan sejarah, pemandian yang sangat berkaitan erat dengan Syekh Maulana Mansyur, ulama Banten yang terkenal di abad ke 15.

Lokasi Batu Quran diyakini merupakan pijakan kaki Syekh Maulana Mansyur yang hendak pergi berhaji ke tanah suci, Mekkah.

Konon menurut sejarah, dengan membaca Bismillah Syekh Maulana Mansyur dapat sampai ke tanah suci Makkah. Dan ketika sekembalinya Syekh Maulana Mansyur dari tanah suci Makkah, beliau muncul bersama dengan air dari tanah yang tidak berhenti mengucur. Air yang mengucur tersebut diyakini banyak orang merupakan air zam – zam.

Setelah Syekh Maulana Mansyur bermunajat kepada Allah dengan melakukan salat dua rakaat di dekat keluarnya air tersebut, Syekh Maulana Mansyur mendapat petunjuk untuk menutup air tersebut dengan Alquran. Atas izin Allah maka air tersebut berhenti mengucur dan Alquran tersebut berubah menjadi batu sehingga dinamakan Batu Quran.

Diketahui sebelumnya,menurut sejarah Syekh Maulana Mansyuruddin, adalah putra dari Sultan Agung Abdul Fatah Tirtayasa. Sekitar tahun 1651 M, Syekh Maulana Mansyuruddin menikah dengan seorang gadis dari Desa Cikoromoy-Banten, bernama Nyi Mas Ratu Sarinten dan dikarunia seorang anak bernama Muhammad sholih.

Syekh Maulana Mansyuruddin merupakan salah satu ulama yang menyebarkan Islam di Kawasan Banten Selatan.

Syekh Maulana Mansyuruddin meninggal dunia pada tahun 1672 M dan dimakamkan di Cikaduen Pandeglang, Banten.

Hingga kini makam beliau sering diziarahi oleh masyarakat luas, tidak hanya masyarakat dari Banten tetapi juga dari luar Banten, makam Syekh Maulana Mansyutuddin paling ramai dikunjungi pada hari-hari besar Islam.